Anak Picky Eaters? Apa Itu? Ini Kata Dokter Apin

Banyak orangtua, termasuk saya akan pusing ketika anak susah makan. Banyak istilah yang diberikan, seperti picky eaters, Ge-Te-Em alias Gerakan Tutup Mulut, dan lain-lain. Apa sih sebenarnya picky eaters itu?

Apakah hal ini dialami oleh semua anak? Wajarkah? Apakah susah makan pasti menghambat pertumbuhan?

anak picky eaters?

Mengapa Harus Makan?

Makan adalah salah satu hal penting yang harus dipenuhi oleh tubuh makhluk hidup. Tidak ada makhluk hidup yang bertahan tanpa makan. Pada manusia, kegiatan makan termasuk untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup pula.

Tak berlebihan jika dikatakan makan adalah aktivitas memenuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh dan kembang anak.

Apalagi masa depan seseorang ditentukan sejak 1000 hari pertama kehidupan sebagaimana yang telah kita ketahui bersama. Hal ini tentu berkaitan dengan asupan makanan di 1000 hari pertama tersebut.

Makan juga termasuk proses mengasah keterampilan motorik dan sosial. Sehingga makan tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi ya.

Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa makan akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang.

Lalu apa perbedaan diantara keduanya?

Pertumbuhan : merupakan bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular. Pertumbuhan memiliki sifat kuantitatif atau dapat diukur dengan menggunakan satuan panjang, berat, dan ukuran kepala.

Sedangkan Perkembangan : merupakan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan juga bersifat kualitatif atau pengukuran dilakukan menggunakan screening perkembangan.

Picky Eaters? Jangan Khawatir, Feeding Tidak Sama dengan Eating

Sebelum beranjak ke pembahasan tentang anak yang susah makan alias picky eater, penting untuk kita ketahui bahwa feeding tidak sama dengan eating.

Feeding adalah interaksi antara anak dengan orangtua atau bisa disebut juga caregiver dengan tujuan memasukkan makanan ke mulut. Sedangkan Eating merupakan tindakan memasukkan nutrisi lewat mulut yang dilakukan anak seorang diri.

Namun itu semua bergantung pada orangtuanya. Seperti apa yang ibu saya pesankan dulu, anak bergantung pada orangtuanya untuk makan. Kalau orangtuanya ngga pernah kasih makanan yang variatif, maka anak juga akan terbiasa makan yang itu-itu saja.

Yang harus dipahami oleh orangtua dan caregivers adalah makan pada bayi atau anak melibatkan peran aktif orang dewasa yang memberinya makanan. Kita perlu memahami cara feeding dengan tepat, agar mampu mengatasi masalah feeding dan eating yang muncul kelak. Termasuk apa yang banyak dikatakan orang sebagai picky eaters. Jangan-jangan, kita sebagai orangtua memang memberinya kesempatan untuk itu?

Kalau kita coba runut sejak kelahiran bayi, mereka membutuhkan ASI yang pasti juga melibatkan peran aktif kita sebagai orangtuanya untuk memberinya makanan. Jika orangtua menghendaki anaknya full ASI maka hal tersebut pun akan terjadi. Pun jika orangtua memang menghendaki anaknya meminum sufor, maka ASI pun juga akan terhambat.

Ketika bayi lahir, kita mulai dengan memberikan ASI. Dalam hal ini kita perlu memperhatikan :

  • Prinsip permintaan atau kebutuhan dan persediaan/produksi.
  • Memberikan ASI harus dipelajari, dan
  • Semua Ibu pasti memproduksi ASI

ASI merupakan cairan hidup yang komposisinya akan berubah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Diantara manfaat ASI yang dokter Apin jelaskan saat itu yakni :

  • Manfaat Imunologis : yaitu memberikan antibodi, bahkan sejak masih berupa kolostrum. Anak-anak yang mendapatkan ASI terbukti lebih jarang sakit diare dan infeksi saluran napas.
  • Manfaat Nutrisi : yaitu mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan mikronutrien yang dibutuhkan selama 6 bulan pertama.
  • Manfaat Emosional : bayi mendapatkan rasa aman dan kedekatan batin dengan ibu.

Lalu setelah ASI, bayi juga berhak mendapatkan MPASI. Pemberiannya pun harus tepat, tidak sembarangan.

MPASI adalah memberikan makanan sambil meneruskan ASI. Bukan menggantikannya.

Dalam pemberian MPASI pun kita juga harus memperhatikan prinsip pemberiannya. Seperti ketepatan waktunya, kecukupan, keamanan serta diberikan dengan cara yang benar.

1. Ketepatan waktu yang dimaksud yaitu anak memang harus siap makan. Siap secara enzim, motorik dan psikologis.

  • Siap secara enzimatik : pada usia 4-6 bulan, enzim saluran cerna siap mencerna karbohidrat dan protein utuh.
  • Siap secara motorik : bayi dapat menegakkan leher, dan refleks melepeh berkurang.
  • Siap secara psikologis : minat bayi untuk ikut makan ketika melihat orang di sekelilingnya makan.

2. Adekuat (kecukupan) : dari segi kecukupan harus mengandung karbohidrat, protein, lemak dan serat.

Karena energi bersumber dari karbohidrat dan lemak di usia 6-8 bulan (21%), 9-11 bulan (42%), 12-23 bulan (57%). Serta karbohidrat : 60-70% total kebutuhan energi.

Kebutuhan serat yaitu berupa sayur dan buah. Sumber vitamin dan mineral. Namun perlu diketahui bahwa jus buah tidak dianjurkan untuk bayi di bawah usia 12 bulan. Sedangkan untuk kebutuhan lemak dengan 30-45% total kebutuhan energi.

Asupan protein untuk mencegah stunting dan gagal tumbuh yang perlu didapat bayi pada usia 6-8 bulan (sebanyak 29%), lalu usia 9-11 bulan (42%) dan 12-23 bulan (sebanyak 57%).

3. Dari segi keamanannya, MPASI harus higienis dan aman baik secara persiapan, penyajian dan penyimpanan.

4. MPASI juga harusnya diberikan dengan cara yang benar atau responsive feeding.

Bagaimana pemberian MPASI yang benar? Yuk kita simak bagaimana dokter Apin memberikan pemaparannya soal konsep makan secara umum.

Konsep Makan Secara Umum

Secara umum konsep makanan meliputi :

  • Makanan pokok pangan yang mengandung karbohidrat yang sering dikonsumsi atau telah menjadi bagian dari budaya makan berbagai etnik di Indonesia sejak lama.
  • Lauk pauk pangan sumber protein hewani (daging sapi dan kambing, unggas (ayam dan bebek), ikan dan hasil laut, telur, dan susu beserta hasil olahannya, nabati (tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Seperti kacang merah, kacang tanah, dan kacang hijau).
  • Buah-buahan
  • Sayur-sayuran

Pemberian MPASI juga dianjurkan dengan pemberian Menu 4 Bintang. Yaitu adanya variasi dalam makanan yang disajikan.

  • Bintang 1 : makanan pokok (karbohidrat)
  • Bintang 2 : sumber makanan dari hewan atau protein hewani
  • Bintang 3 : sumber makanan dari kacang-kacangan dan biji-bijian (protein nabati)
  • Bintang 4 :  buah-buahan dan sayuran yang kaya vitamin A

Adapun untuk minyak dan lemak (minyak goreng, margarin, dan mentega) dapat ditambahkan ke sayuran dan makanan lain, untuk meningkatkan serapan beberapa vitamin dan memberikan energi ekstra.

Hanya membutuhkan sedikit minyak (tidak lebih dari setengah sendok teh per hari).

Namun kelemahannya mungkin orangtua akhirnya hanya akan berfokus terhadap variasi bahan pangan, dan dikhawatirkan tidak mencukupi kebutuhan lemak itu sendiri.

Bagaimana idealnya porsi pemberian makan ini?

Rekomendasi dari UKK Nutrisi IDAI menyarankan agar MPASI yang diberikan mengandung protein 10-20%, lemak 30-40% dan sisanya karbohidrat.

Misalnya seorang bayi berusia 6 bulan dengan berat badan 7,5 kilogram. Setidaknya ia membutuhkan : 5-10 gram protein per hari, lemak 7-10 gram perhari (1 sendok teh minyak), karbohidrat 18-30 gram perhari dan buah atau sayuran sebagai perkenalan dan tidak banyak.

Tidak cukup hanya memberi makan saja. Tetapi juga harus memantau pertumbuhan anaknya. Bahkan sejak periode ASI eksklusif, jangan sampai bayi gagal tumbuh. Pahami cara memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.

Lalu bagaimana dengan garam dan gula dok? Boleh kok, namun dengan batasan.

Bagaimana Responsive Feeding itu? Apakah Berpengaruh pada Pola Picky Eaters?

responsive feeding

Konsep responsive feeding berdasarkan rekomendasi WHO sebagai berikut :

  • Suapi bayi dan dampingi anak yang lebih besar apabila mereka makan sendiri. Tanggaplah terhadap sinyal lapar dan kenyang mereka.
  • Beri makan pelan-pelan dan bersabarlah, jangan memaksa dan berilah semangat.
  • Apabila anak menolak berbagai jenis makanan, cobalah berbagai kombinasi menu, rasa, tekstur, dan metode.
  • Kurangi pengalih perhatian apabila anak mulai terlihat bosan.
  • Waktu makan anak adalah saat bayi belajar dan mendapatkan ungkapan kasih sayang dari orangtuanya, maka ajak anak bicara dengan kontak mata.

Prinsip responsive feeding dalam konsep properly fed ini penting dipahami untuk mengatasi berbagai masalah makan. Praktikkan responsive feeding untuk mencegah GTM.

Jangan paksakan anak ya karena semua sudah memiliki tugasnya masing-masing. Kita sebagai orangtua memiliki tugas dalam pemberian makan seperti :

What to Eat yakni menyediakan makanan yang sehat, bergizi dan bervariasi. Lalu When To Eat yakni mengatur jadwal makan mereka, dan Where To Eat yakni menentukan tempat makan mereka. Adapun berapa banyak yang harus dimakan? Hal itu menjadi tugas anak.

Seputar Feeding Problem pada Anak

Feeding problem kadang sulit diterjemahkan menjadi masalah makan, karena berbeda dengan eating problem. 

Adapun klasifikasi feeding problems/difficulties berupa :

  • Inappropriate feeding practice

Biasanya perilaku makan salah atau memberikan makan tidak sesuai usia anak. Sebabnya, orangtua kurang paham cara pemberian makan yang benar.

Namun bisa juga disebabkan oleh kondisi penyakit/patologis pada anak small/selective eaters

Maka solusinya orangtua harus paham feeding rules dan prinsip pemberian makan.

  • Small eaters

Anak yang disebut small eaters ini biasanya memiliki keluhan makan sedikit (menurut orangtua), status gizi kurang (dapat dilihat dari grafik pertumbuhan), tetapi feeding rulesnya sudah benar.

Anaknya pun aktif, perkembangannya normal, tidak punya penyakit dan lebih tertarik pada lingkungan sekitar dibanding makanan.

Biasanya kesalahan orangtua sebagai respon spontannya yaitu memberikan camilan tidak sehat, sehingga menurunkan selera untuk makan makanan utama, atau orangtua memaksa makan.

  • Picky/Selective eaters

Yang disebut sebagai picky eaters ini sebenarnya anak masih mau mengonsumsi berbagai makanan namun sedikit jumlahnya dengan alasan rasa, tekstur, dan lain-lain.

Sedangkan Selective eaters ia menolak semua jenis makanan dalam satu kelompok bahan makanan tertentu. Sehingga berisiko defisiensi makro/mikronutrien tertentu.

  • Parental Misperception

Oleh karena itu perlu kita pahami bagaimana contoh feeding rules yang baik. Usahakan jadwal makannya teratur, lingkungannya menyenangkan dan tidak ada paksaan. Lalu prosedur yang diberikan cukup dengan porsi kecil sesuai kebutuhan anak.

Jika lama makan anak tidak lebih dari 30 menit, lingkungannya pun tidak ada distraksi saat makan (misalnya screen time) kita cukup memberinya motivasi agar ia mampu makan sendiri.

Kita perlu memahami tanda anak tidak mau makan dan orangtua lah yang memutuskan untuk melanjutkan atau mengakhirinya.

Lalu masuk dalam kategori mana GTM itu sendiri? Mayoritas ternyata picky eater dan selective eater, ditambah dengan parental misperception dan inappropriate feeding practice.

Maka sebagai orangtua harus mampu membedakan GTM anaknya. Apakah masih normal atau wajar pada anak? Ataukah memang kelainan atau maladaptif?

Awalnya saya pikir Caca ini termasuk picky eaters, namun ternyata ia adalah selective eaters. Hal yang ternyata harus saya waspadai. Karena bisa-bisa dia akan mengalami defisiensi makro atau mikronutrien tertentu. Mudah-mudahan anak-anak kita semua diberi kesehatan yaa, tidak ada lagi drama-drama GTM yang biasa disebutkan ibu-ibu muda.

Sepertinya mulai saat ini saya juga harus membenahi feeding rules yang salah. Karena bagaimanapun anak Picky Eaters maupun Selective Eaters memang harus dibenahi feeding rulesnya bukan?

Semoga bermanfaat ya 🙂

 

Referensi : Kulwap Bersama dr. Apin, Dokter Spesialis anak, Konsultan Saraf Anak dan Penulis “Orangtua Cermat Anak Sehat”

Teman-teman juga bisa baca artikel tentang parenting lengkap melalui lama milik sahabat saya.

 

 

4 tanggapan pada “Anak Picky Eaters? Apa Itu? Ini Kata Dokter Apin”

  1. Pas banget artikelnya mom Ji. Ara dr dulu susah makan. Sebenarnya dia tu mau makan, tapi ga mau banyak porsi. Aneka jenis pun dia mau. Cuma orang-orang tua (saya, suami, mertua) mungkin masih kurang dalam menyiapkan makanan variatif, sedikit porsi, dan masih sering maksa biar dia makan banyak.

    Perlu banyak belajar. Makasih banyak artikelnya mommy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *